Terus Ditindas, Muslim Rohingya Memilih untuk Melawan dan Mulai Bangun Kekuatan Bersenjata

Umatuna.com, JAKARTA -- Peneliti Politik Internasional LIPI Sandy Nur Ikfal Raharjo mengatakan, kekerasan yang terjadi di Rakhine pekan ini merupakan tahap baru dalam konflik tentang isu minoritas Rohingya di Myanmar. Jika sebelumnya muslim Rohingya hanya menjadi objek kekerasan, kini sebagian mereka telah memilih untuk melawan dan membangun kekuatan bersenjata.

"Hal ini akan semakin memperumit upaya penyelesaian yang perlu dilakukan. Untuk mengatasi konflik di atas, ada beberapa isu penting yang perlu dipahami dulu oleh berbagai pihak yang berkepentingan, yaitu aktor yang terlibat dan faktor penyebab konfliknya," katanya, Senin (28/8).

Untuk aktor, setidaknya ada tiga kelompok aktor utama dalam konflik di Rakhine Myanmar, yaitu kelompok muslim, kelompok Budha, dan pemerintah. Pada kelompok Muslim, mereka terdiri atas orang-orang etnis Rohingya dan beberapa etnis minoritas lain seperti Kaman dan Rakhine Muslim.

Sebagian telah mendiami wilayah Rakhine sejak abad ke-15 dan sebagian lagi mulai menempati wilayah Rakhine pada abad ke-19 dan ke-20 pada masa kolonialisme Inggris. Sebagai kelompok minoritas, mereka berkepentingan agar hak-hak hidup dasar mereka dapat terpenuhi, baik hak sipil dan politik yang berupa pengakuan kewarganegaraan maupun hak ekonomi, sosial, dan budaya yang berupa akses terhadap pendidikan, kesehatan serta pengakuan terhadap identitas agama mereka yang berbeda dari agama nasional negara.

Meskipun demikian, sejak tahun 1962 Pemerintah Myanmar telah menjalankan kebijakan dikriminatif, terutama terhadap Muslim Rohingya. Oleh karena itu, berbagai upaya perlawanan terhadap diskriminasi tersebut diwujudkan dalam bentuk perjuangan politik untuk mendirikan negara bagian muslim yang otonom.

Bahkan, terang Sandy, ada pula gerakan Mujahidin yang memperjuangkan hak untuk menentukan nasib sendiri (self-determination) dan menjadi negara yang merdeka. Di awal perjuangan mereka, kelompok Mujahidin ini berhasil dikalahkan oleh Pemerintah Myanmar.

Namun pecahnya konflik pekan ini menunjukkan bahwa mereka tetap eksis dan justru semakin kuat. Awalnya, gerakan perjuangan bersenjata dan politik ini tampak tidak terlalu bergema di kalangan komunitas Rohingya dan Muslim Rakhine. Namun akibat menjadi korban kekerasan terus-menerus, dukungan tersebut tampaknya mulai menguat sebagai harapan bagi komunitas muslim untuk memperjuangkan hak-haknya.

Aktor kedua adalah kelompok Budha, yang setidaknya ada tiga pihak yang bersatu pada konflik ini. Pertama, para politisi dari Rakhine Nationalities Development Party (RNDP) yang berperan sebagai aktor yang mensekuritisasi isu agama dan etnis kepada warga Budha Rakhine. Kedua, para biksu beraliran keras yang juga menjadi aktor yang mensekuritisasi gerakan anti-Muslim Rohingya dan menyuarakan pengusiran warga Muslim dari pemukiman yang didominasi orang Budha. Salah satu pimpinannya adalah Biksu Wirathu yang dijuluki oleh media internasional sebagai “Burmese bin Laden”. Ia memproduksi Digital Video Disc (DVD) dan selebaran yang menyebarkan rumor melawan Muslim.

Biksu Wirathu  juga memimpin Gerakan 969 yang menghubungkan Budhisme dengan Nasionalisme Burma dan menyuarakan islamofobia/anti-Muslim. Walaupun demikian, ada pula beberapa biksu yang bersikap sebaliknya dengan membantu para pengungsi Muslim dan mempromosikan dialog antaragama sebagai salah satu cara penyelesaian konflik. Namun, jumlah mereka masih sedikit, bahkan oleh kelompok biksu garis keras yang mayoritas, mereka dianggap sebagai pengkhianat.

Dibalik posisi mereka sebagai kelompok mayoritas yang mengopresi kelompok minoritas, sebenarnya kepentingan mereka adalah pemenuhan dan pengakuan eksistensi kelompok mereka. Eksistensi mereka mulai terancam oleh keberadaan orang-orang Muslim yang mulai berkembang dari segi jumlah populasi maupun segi ekonomi.

Ketiga, masyarakat umum Budha Rakhine. Mereka berperan sebagai kelompok yang rentan diprovokasi dan dimobilisasi untuk melakukan kekerasan terhadap kelompok lain. Dengan tingkat pendidikan dan ekonomi yang rendah yang dikombinasikan dengan faktor elemen budaya dan agama akan tingginya kedudukan biksu dalam tatanan masyarakat, mereka akan mematuhi apa yang disampaikan oleh para biksu.

Aktor ketiga yang turut berperan penting dalam konflik adalah pemerintah. Mereka turut berperan sebagai aktor yang mensekuritisasi dengan mengatakan bahwa orang-orang Muslim Rohingya bukanlah bagian dari etnisitas asli Myanmar. Bahkan mereka juga meminta UNHCR untuk memindahkan para “pelintas batas ilegal” tersebut ke negara ketiga yang mau menerima mereka.

Pemerintah juga dianggap membiarkan kekerasan dilakukan oleh orang-orang Budha terhadap orang Muslim di Rakhine. Menurut Human Right Watch, ada aparat keamanan pemerintah  yang dilaporkan terlibat aktif dalam pembunuhan dan penyiksaan terhadap minoritas muslim. Padahal pemerintah seharusnya dapat menjadi aktor fungsional yang membantu mendamaikan dua kelompok masyarakat yang berkonflik.n dyah ratna meta novia

Untuk identifikasi faktor (penyebab konflik), ada tiga kategorisasi yaitu faktor pemicu, faktor akselerator, dan faktor struktural. Pada faktor pemicu (trigger), bentrokan pekan ini dipicu oleh berita diserangnya kamp pengungsi warga Muslim oleh aparat pemerintah yang mengakibatkan terbunuhnya 2 orang warga Muslim. tindakan telah menimbulkan kemarahan masyarakat dan kelompok bersenjata yang akhirnya berujung pada penyerangan puluhan pos polisi di wilayah tersebut.

Pada faktor yang bersifat akselerator, sudah ada perdebatan antarkelompok terkait isu orang-orang Muslim Rohingya apakah bagian dari etnis asli Myanmar atau bukan. Kelompok yang pro-Rohingya mengatakan bahwa mereka adalah penduduk asli Myanmar yang sudah menempati wilayah Rakhine jauh sebelum era kolonisasi Inggris. Oleh karena itu, mereka menganggap bahwa Rohingya harus dicatat sebagai salah satu kelompok etnis di Myanmar dan diberikan hak kewarganegaraan. Di sisi lain, pemerintah dan kelompok yang anti-Rohingya yang lebih besar kekuatannya mengatakan bahwa orang Rohingya tidak pernah menjadi ras asli nasional di Myanmar, tetapi mereka adalah imigran dari Bengal yang datang setelah Perang Anglo-Burma tahun 1824. Sebagai imigran, mereka tidak berhak mendapatkan kewarganegaraan. Selain isu penolakan sebagian besar warga Budha Myanmar terhadap pengakuan etnis Rohingya, isu lain yang juga menjadi perhatian adalah adanya kecemburuan dan kecurigaan terhadap orang-orang minoritas Rohingya. Populasi masyarakat Muslim Rohingya terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan tersebut kemudian menimbulkan persaingan dengan orang-oang Budha Rakhine, baik dalam hal penguasaan lahan maupun dalam hal ekonomi/bisnis. Dengan demikian, kepentingan yang sebenarnya bukanlah kebutuhan untuk menjaga eksistensi agama Budha, tetapi lebih kepada kepentingan ekonomi.

Pada faktor yang bersifat struktural (mendasar), konflik di Rakhine sebenarnya merupakan puncak gunung es dari serangkaian kebijakan diskiminatif Pemerintah Myanmar sejak tahun 1962. Proses diskriminasi dilakukan secara sistematis, misalnya melalui pemisahan tempat tinggal warga muslim dengan warga mayoritas Budha, perampasan berbagai hak sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang dilakukan melalui kebijakan untuk tidak memberikan status warga negara bagi orang-orang Muslim Rohingya. Mereka diharuskan membayar ketika ingin mengunjungi desa tetangga. Mereka juga tidak diizinkan untuk melakukan perjalanan ke lebih dari tiga kota. Mereka juga dibatasi aksesnya terhadap pendidikan tingkat kedua dan ketiga serta layanan-layanan publik lainnya. Diskriminasi ini kemudian lama-kelamaan memengaruhi cara pandang orang-orang Budha yang mayoritas terhadap orang Islam yang minoritas. Akibatnya, terjadi stereotip-stereotip negatif terhadap mereka sehingga diskiriminasi juga akhirnya dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika konflik komunal warga Budha dengan warga Muslim tidak hanya terjadi pada tahun 2012–2013 saja, tetapi sebelumnya juga pernah terjadi pada tahun 1978, 1992, 2001, dan 2009.

Lalu, bagaimana cara penyelesaian yang dapat dilakukan? konflik komunal di Rakhine sudah masuk pada tahap limited destructive blows (penyerangan yang bersifat destruktif). Pada tahap ini seharusnya resolusi konflik sudah tidak dapat lagi mengandalkan kemampuan dan kemauan antarkelompok Budha dan Muslim yang berkonflik untuk menyelesaikan masalah melalui negosiasi. Langkah resolusi konflik yang dapat dilakukan adalah melalui mediasi atau arbitrasi pihak ketiga, dan juga sudah dapat menggunakan intervensi kekuatan (militer). Kemudian terkait dengan peran pemerintah yang justru ikut mensekuritisasi konflik maka tekanan dari dunia internasional perlu diperkuat agar mereka bertanggung jawab menyelesaikan konflik internal tersebut. Dalam hal ini, ASEAN sebenarnya diharapkan dapat merangkul pemerintah Myanmar untuk berperan aktif dan netral dalam penyelesaian konflik. Namun, seperti diketahui bahwa ASEAN sangat menjunjung tinggi prinsip non-intervensi dan kedaulatan masing-masing negara anggota, sehingga sulit untuk mengharapkan ASEAN melakukan langkah konkrit selain himbauan-himbauan yang bersifat normatif. Tekanan yang lebih besar justru dapat dilakukan oleh negara-negara di luar ASEAN seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa. Jika kekerasan terus terjadi dan semakin parah bahkan menunjukkan adanya upaya nyata dilakukannya genosida terhadap warga Muslim Rohinya dan Rakhine, konsep Responsibility to Protect melalui intervensi kekuatan militer dari PBB dapat menjadi faktor deterrence (penggertak) agar pihak-pihak yang terlibat dalam konflik, termasuk pemerintah Myanmar, menghormati prinsip-prinsip hak asasi manusia. Dan yang paling penting, penyelesaian konflik hanya dapat dilakukan jika faktor struktural dihilangkan, yaitu melalui pencabutan kebijakan (undang-undang) yang diskriminatif terhadap kelompok minoritas mualim di Myanmar. Sumber: Republika

COMMENTS

[Artikel Menarik Lainnya]$hide=home

|TERBARU$type=blogging$cate=2$count=11$pagination=5$author=hide$comment=hide$label=hide$hide=home

Nama

121,10,1212,12,2017,1,21 februari,20,212,61,212mart,3,313,53,412,2,aa gym,22,Aboe Bakar Alhabsyi,5,aceh,15,acta,12,ade armando,10,adi prayitno,2,adik ipar jokowi,4,afi nihaya,20,Agus Hermanto,1,agus yudhoyono,1,aher,3,ahmad dhani,5,Ahmad Doli Kurnia,19,ahmad ishomuddin,14,ahmad yani,1,ahmadiyah,1,ahok,831,ahoker,141,ahy,1,aidit,1,akbar tanjung,2,aking saputra,1,aksi 112,38,aksi 287,12,aksi bela ulama,15,aksi simpatik 55,120,aktivis 98,2,al quran,10,aleppo,2,alfian tanjung,6,aliansi anak bangsa,1,Allan Nairn,1,am fatwa,2,amerika,11,amien rais,70,amir hamzah,2,amsa,1,anak ahok,1,anak durhaka,1,ancaman pembunuhan,1,andi analta,1,Andre Rosiade,1,aneh,1,anggota dewan,2,angket ahok,3,angola,1,anies baswedan,45,anis baswedan,1,anthony leong,1,anto galon,5,anton charliyan,64,anton galon,3,anton tabah,11,api,5,arab saudi,3,arifin ilham,22,aron ashab,4,artis,1,aseo warkab yusuf,1,ashin wirathu,1,asing,8,athian ali,5,atribut natal,22,australia,2,austria,1,bachtiar nasir,50,baiq nuril maknun,3,bali,1,bambang widodo,1,bandung,5,banjir jakarta,17,banyuwangi,2,bappenas,1,batam,1,bbm,4,bedera tauhid,1,bekasi,2,belgia,1,bella hadid,1,bendera asing,3,bendera cina,5,bendera merah putih,10,bendera rms,1,beras maknyus,6,bima arya,2,blbi,2,bnn,1,bnpb,1,bogor,4,bom panci,1,Boni Hargens,3,bpjs,6,bps,1,bukit duri,1,bumn,19,buni yani,18,buruh,7,buwas,1,buya yahya,2,cabai,6,cabai cina,13,cadar,1,caisar,11,cak imin,1,cak nun,1,cakrawala,103,cakung,1,california,1,ciamis,1,cilacap,1,cina,256,coca cola,1,daeng,2,dahnil anzar simanjutak,5,damai hari lubis,1,dana haji,43,darmansyah,1,darwis,1,ddii,2,debat pilkada jakarta 2017,12,deddy arianto,1,deddy corbuzer,1,deddy mizwar,2,dede yusuf,1,dedi mulyadi,4,demo 161,4,demo buruh,3,demo jokowi mundur,5,demo solidaritas rohingya,6,demo tolak tka cina,1,demokrat,3,denmark,1,denny ja,1,desmond j mahesa,1,didin hafidhuddin,2,didit srigusjaya,1,din syamsudin,38,djan faridz,29,djarot,63,djoko edhi abrurrahman,3,donald trump,24,dpn spri,1,dpr,5,dubes rusia ditembak,2,dwi estiningsih,2,e-ktp,35,eddy prabowo,1,eggi sudjana,5,eko patrio,1,ekonomi,95,elpiji,1,erdogan,25,erick yusuf,2,ermus sihombing,1,ernest,4,facebook,1,facebook jonru,1,fadli zon,108,fahira idris,11,fahmi salim,3,fahri hamzah,59,Faisal Basri,1,faizal assegaf,6,fakta,1,farid wajdi,1,fbi,2,felix siauw,14,Ferdinand Hutahaean,2,fifi,1,filipina,1,fiqih,1,fitra,1,fkub,1,foto,18,foto jokowi-jk,1,fpi,148,fpu,1,freeport,37,fsi,1,fui,9,game,1,garam,2,garut,1,gas,3,gas impor,2,gatot nurmantyo,78,gema pembebasan,1,geprindo,1,gerindra,16,gib,1,gibran,1,gnpf mui,80,golkar,7,gp ansor,24,gpii,1,gresik,1,gula,10,guru,1,gus dur,3,gus nizar,2,gus sholah,3,habib kholil,2,habib novel,20,habib rizieq,288,habibie,4,habiburokhman,1,hadits,1,haji,4,haji lulung,17,ham,1,harga garam naik,36,hari tanoe,1,haris,1,hary tanoe,5,Hasto Kristiyanto,2,hasyim muzadi,5,hendrardi,1,heri prakoso,1,herman khaeron,1,hermansyah,35,hermanto,1,hidayat nur wahid,57,hikmahanto juwana,1,hipmi,1,hmi,4,hoax,2,hong kong,1,hti,64,hungaria,1,icmi,15,ilc,2,imam nahrawi,1,imm,1,impor,1,indef,1,india,4,indonesia,1628,inggris,3,internasional,265,inul daratista,5,ipw,2,irena handono,2,Islamophobia,2,ismail yusanto,2,israel,9,istri ahok,1,italia,2,itb,1,iwan bopeng,8,iwan sumule,1,jaja miharja,2,jakarta,134,jaksa agung,2,jamaah tabligh,1,jambi,2,jawa barat,1,jawara bekasi,3,jawara betawi,4,jaya suprana,1,jazuli juwaini,6,jeje zaenudin,1,jember,1,Jenderal Tyasno,4,jepang,1,jhonny andrean,2,Jimly Asshidqie,3,jj rizal,2,jk,6,jokowi,460,jokowi undercover,2,jps,1,junaedi albaghdadi,1,jusuf hamka,5,kaesang,24,kahmi,4,kalimantan,1,kammi,12,kanada,1,kapolda metro,15,kapolda sumut,2,kapolri,27,karawang,1,karikatur,9,karomah,1,kasmir,1,kasta,1,katar,1,kau adalah aku yang lain,13,keluarga,1,kemenkeu,1,kemenkumham,3,kemnaker,1,kesehatan,5,khalid basalamah,1,khazanah,18,Kiki Syahnakri,7,kisah,5,kivlan zein,1,kmsu,1,knpi sumut,4,kokam,3,kolombia,1,komedi,1,komnas ham,30,kompak,1,kompas,2,komtak,1,komunis,289,koperasi 212,5,korea selatan,2,korupsi,14,kp31,1,kpk,26,kpsi,1,kpu dki,6,kriminalisasi ulama,42,kristenisasi,3,kspi,2,Kwik Kian Gie,1,lampung,3,lbh jakarta,4,lgbt,2,lia eden,1,liberalisme,2,Lieus Sungkharisma,23,lily wahid,1,limbad,2,lindsay lohan,11,lipi,2,listrik,29,lombok,1,london,6,lphb nu,1,lsi,2,lubuklinggau,30,luhut,21,lukman hakim,3,lumajang,1,lutfi fathullah,1,m nasser,1,m prasetyo,1,ma'ruf amin,39,mahasiswa,18,mahasiswa nu,1,mahfud md,10,makar,22,makassar,2,makkah,1,malaysia,4,manado,1,margarito,2,Margarito Kamis,2,marlo sitompul,1,maroko,1,marzuki alie,1,mataram,1,maulid nabi,1,medan,5,media islam,13,megawati,46,meikarta,3,meksiko,1,menag,11,menaker,3,mendagri,39,menhan,4,merdeka,1,metro tv,8,Miftachul Akhyar,1,miras,4,miryam,13,mmi,2,mobil fpi,5,mpr,11,ms kaban,1,mualaf,52,Muchtar Effendi,1,mudzakir,3,Muhammad Al Khathtath,35,muhammad maksum,1,muhammad syafii,11,muhammadiyah,60,muhasabah,1,mui,136,munarman,7,muslim arbi,4,muslim uighur,7,muslimah,1,myanmar,12,naman sanip,2,narkoba,29,nasir djamil,5,Natalius Pigai,2,nathan p suwanto,7,nelayan,11,neno warisman,1,neoliberalisme,2,neta,1,new york,1,noorsy,1,novanto,35,novel baswedan,72,nu,39,nurul fahmi,13,nusron wahid,4,obama,2,oesman sapta,2,olahraga,1,ombudsman,2,opini,1,ormas asing,14,ormas gmbi,36,ornamen alexis,2,pabrik gula,8,pacaran,1,padang,1,pajak,1,pajak petani tebu,10,pajak tanah,2,pakistan,3,palangkaraya,1,palestina,27,pan,2,papua,2,parepare,1,parmusi,8,paspor,1,patrialis akbar,5,paul pogba,3,pbnu,4,pdip,25,pedoman ceramah,1,Pedri Kasman,3,pekerja asing,42,pekerja cina,66,pemblokiran telegram,3,pemuda pancasila,1,pendataan ulama,9,pendeta max,3,pendidikan,28,pengacara ahok,4,pengelolaan pulau,11,penjahat cyber asal cina,23,pepen,1,perampasan tanah,2,permen narkoba,1,perppu ormas,50,persis,1,petani,33,petung cina,1,pilkada dki 2017,136,pkb,5,pki,82,pks,15,pmii,1,pmkri,1,polisi,78,polisi santri,1,politik,1,ponpes habib rizieq,7,ppp,19,prabowo,18,Prabowo Argo Yuwono,1,prancis,1,profil,1,progres 89,3,progres 98,2,pt conch,1,puan maharani,1,puasa arafah,3,puisi,1,purbalingga,2,qatar,3,rachel maryam,1,rachmawati soekarnoputri,9,raja salman,29,ramadhan,23,ratna sarumpet,3,red army,1,reklamasi,82,retail,1,ridwan kamil,6,ridwan saidi,3,risma,1,rizal ramli,17,rob reiner,1,Rocky Gerung,1,rohingya,263,rohis,1,rokok,5,Romli Atmasasmita,1,ruhut sitompul,4,rusia,1,rusun rawa bebek,9,sabu,5,sad,4,said aqil,25,sains,1,Saleh Partaonan Daulay,1,samarinda,1,sambas,1,samyang mengandung babi,8,sandiaga uno,16,santa clara,5,sapma pp,1,saracen,1,sari roti,5,sby,23,sejarah,20,sejarah hari ini,3,selebaran tolak wahabi,5,selebriti,3,sembako murah,14,seri ceramah ramadhan,1,sidang ahok,389,sidang habib rizieq,3,sijunjung,1,singapur,3,siyono,6,skotlandia,1,slovakia,1,sobari,1,sodik mudjahid,7,solo,2,spanyol,3,sri bintang pamungkas,3,sri lanka,6,sri mulyani,10,srilangka,1,starbuck,15,steven hadisurya,5,stnk,16,subang,1,suciwati,2,sukabumi,2,sulawesi,1,sumbar,3,sumber waras,4,sumsel,1,surabaya,5,suriah,4,susi pudjiastuti,2,suu kyi,3,swedia,1,syafii maarif,1,syiah,19,tamasya al maidah,10,tasik,1,Taufik Ismail,11,teknologi,7,tengku zulkarnain,6,tepuk anak soleh,3,teror mobil terbakar,8,teror posko fpi,4,terorisme,7,teungku zulkarnain,2,timnas,1,tiongkok,2,tito karnavian,44,tka,41,tni,27,tommy soeharto,1,Trimoelja D Soerjadi,2,tuban,9,tunisia,1,turki,10,tweet aa gym,14,tweet akmal sjafril,18,tweet fadli zon,1,tweet fahri hamzah,3,tweet felix siauw,11,tweet haji lulung,1,tweet media islam,1,tweet teungku zulkarnain,89,tweet zaitun rasmin,3,twitter fpi,3,uandri susanto,1,uang rupiah baru,3,ui,1,uin,2,umj,1,unik,1,unpam,4,ust. sambo,2,ustadz abu bakar ba'asir,4,utang negara,7,uus,3,vaksin rubela,9,valentine,8,victor,3,video,64,video instagram,2,video kampanye ahok,18,vietnam,4,visa asing,9,watampone,1,wawasan,12,widodo,4,wiranto,7,wiryanto,1,wortel cina,3,yahudi,5,yaman,1,yandri susanto,1,yanuar ilyas,1,Yasonna Laoly,3,yayasan kasih anugerah,5,yenny wahid,2,yesus,1,ykub,1,ykus,8,yosonna,1,yusril mahendra,28,zainal majdi,1,zainul majdi,19,zaitun rasmin,4,zakat,1,zakir naik,37,Zeng Wei Jian,2,zimbabwe,2,zulfan lindan,1,zulkifli hasan,40,
ltr
item
Umatuna.com: Terus Ditindas, Muslim Rohingya Memilih untuk Melawan dan Mulai Bangun Kekuatan Bersenjata
Terus Ditindas, Muslim Rohingya Memilih untuk Melawan dan Mulai Bangun Kekuatan Bersenjata
https://3.bp.blogspot.com/-oOM0ZTYKsA4/WaX0qVRHSgI/AAAAAAAASIU/t0Qqhr76lLg1xow748CtAYatOWf4gF5CACLcBGAs/s320/026805900_1490689351-Bangladesh_Myanmar_Hand.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-oOM0ZTYKsA4/WaX0qVRHSgI/AAAAAAAASIU/t0Qqhr76lLg1xow748CtAYatOWf4gF5CACLcBGAs/s72-c/026805900_1490689351-Bangladesh_Myanmar_Hand.jpg
Umatuna.com
http://www.umatuna.com/2017/08/terus-ditindas-muslim-rohingya-memilih.html
http://www.umatuna.com/
http://www.umatuna.com/
http://www.umatuna.com/2017/08/terus-ditindas-muslim-rohingya-memilih.html
true
3071743323913161432
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy